UPACARA ADAT KEBO-KEBOAN

1 04 2008

Rabu, 23 Januari 2008
Di sepanjang jalan utama Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh pada hari minggu (20/01/08) dialiri air yang dikeluarkan dari pompa air yang ada di desa tersebut sehingga jalanan utama desa itu becek seperti tanah sawah yang akan ditanami padi, kemudian muncul orang-orang dengan wajah dan tubuhnya yang hitam legam dan dikepalanya terdapat tanduk seperti kerbau menyusuri jalanan tersebut yang dihalau oleh para petani lengkap dengan bajaknya. Walaupun demikian banyak sekali orang-orang yang datang dari berbagai wilayah di Banyuwangi memadati jalan tersebut. Bahkan Bupati Banyuwangi beserta beberapa pejabat Pemkab, Kapolres dan Dandim 0825 Banyuwangi turut hadir menyaksikan.
Kejadian tersebut merupakan salah satu prosesi upacara adat Kebo-keboan yang dilaksanakan setiap tahun oleh warga Desa Alasmalang. Awalnya upacara adat ini dilaksanakan untuk memohon turunya hujan saat kemarau panjang, dengan turunnya hujan ini berarti petani dapat segera bercocok tanam.
Prosesi upacara ini diawali dengan selamatan ditengah jalan kampung pada pagi hari, terdapat sesaji, kue dan nasi tumpeng yang diberi do’a yang dipimpin oelh seorang kyai / tokoh adapt desa, kemudian tumpeng dibagikan kepada para pengunjung dan masyarakat sekitar. Kue dan makanan disiapkan oleh masing-masing keluarga dan disajikan untuk para tamu dan famili yang berkunjung. Selanjutya acara dilanjutkan dengan “Idher Bumi” yang diikuti oleh beberapa orang laki-laki yang berbadan tegap yang berdandan dan bertingkah laku seperti kerbau. Tubuh mereka dicat dengan cat hitam sehingga kelihatan hitam legam.
Sebagai puncaknya adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi di persawahan. Orang-orang yang bertingkah seperti kerbau tadi dapat kesurupan dan mengejar siapa saja yang mencoba mengambil bibit padi yang ditanam. Warga masyarakat Desa Alasmalang berusaha berebut bibit padi tersebut, karena dipercaya dapat digunakan sebagai tolak-balak maupununtuk keuntungan.
Sumber: Radar Banyuwangi





RUJAK SOTO

1 04 2008

Rujak soto? Nggak salah, tuh?

Aneh, tetapi nyata. Cobalah datang ke Banyuwangi dan cicipi sendiri hidangan khas itu. Rujaknya seperti rujak Jawa Timur-an umumnya, yaitu irisan lontong dibubuhi kangkung, tauge, ketimun, tahu, dan tempe, dibubuhi sambal petis dengan kacang tanah dan gula merah. Seperti rujak Jawa Timur umumnya, sambalnya memakai pisang kluthuk batu yang diuleg bersama bumbu-bumbu lainnya.

Rujak yang menerbitkan liur, bukan? Tetapi, tunggu dulu. Rujak segar itu kemudian diguyur dengan kuah soto babat yang encer dan berwarna kuning. Byurrrr! Bila suka, babat dan daging soto juga diikutsertakan. Bagaimana rasanya? E-Bang Pede! Enak Banget, Percaya Deh! Menurut cerita penjualnya: “Lebih enak lagi kalau tidak langsung dimakan. Simpan dulu di kulkas, kalau sudah dingin baru dimakan. Sssuuegerrr!”

Kebayang nggak, sih?

Rujak dengan daging – seperti misalnya rujak cingur – memang bukan hal aneh di Jawa Timur. Konsep rujak di Jawa Timur juga tidak sebatas buah-buahan segar yang diiris tipis-tipis dan dicocol sambal, melainkan termasuk sayur-sayuran yang direbus. Di Jawa Tengah juga ada rujak buah yang ditambahi krai rebus (krai = semacam ketimun) yang disebut plonco. Plonco bermanfaat untuk mendinginkan panas dalam, dan konon juga untuk menurunkan tekanan darah.

Penjual rujak soto yang paling terkenal di Banyuwangi adalah “Mbok Semi”, dekat SMU Negeri I Glagah. Hanya buka siang hingga sore. Maklum, rujak soto tidak cocok lagi untuk dimakan pada malam yang sejuk. Dari pagi sampai sore, warung “Mbok Semi” selalu ramai diantre pembeli.

Bukan hanya di Banyuwangi! Bila Anda kebetulan jalan-jalan di Jember, rujak soto juga cukup mudah ditemukan. Di sebuah warung rujak soto di pojokan Jalan Ahmad Yani, Jember, penjualnya juga menyajikan rujak cemplung. Ini adalah rujak buah – ketimun, kedondong, ubi jalar mentah, nenas – dipotong dadu dan disiram sambal gula merah yang dicampur sedikit cuka. Hmm, berliur kan mulut Anda sekarang?

Di Jember dan Banyuwangi, ada satu jenis hidangan yang sangat populer. Namanya: ayam pedas. Beberapa warung menulis menunya dengan nama lengkap: cocoh ayam pedas. Sayangnya, saya menemukan dua versi ayam pedas dan kurang yakin yang mana yang otentik. Versi pertama adalah ayam utuh yang dibelah dan diregang menjadi bekakak. Bumbunya adalah cabe merah, kemiri, asam jawa, bawang putih, terasi. Bumbu yang sudah dihaluskan dibalurkan ke seluruh tubuh ayam. Daging ayam kemudian ditusuk-tusuk (dicocoh) dengan garpu agar bumbunya lebih merasuk, kemudian dibakar.

Versi lain ayam pedas saya temukan di Rambipuji, dekat Jember. Di sini ayamnya sudah dipotong-potong kecil dengan bumbu: cabe merah, cabe rawit, kemiri, bawang merah, bawang putih, asam jawa, kecap manis. Potongan ayam direbus dengan bumbu-bumbu tadi sampai airnya menguap. Ayam dibalur dengan kecap lagi, dan kemudian dibakar. Membakarnya tidak terlalu lama, hanya cukup untuk menimbulkan aroma bakaran yang khas, lalu dikembalikan ke bumbu nyemek yang puedesss.

Versi pertama lebih nendang pedasnya, sekalipun tidak memakai cabe rawit. Versi kedua lebih manis karena pedasnya cabe sudah diredam dengan ke- cap manis. Yang mana lebih saya sukai? Keduanya! He he he …, dasar rakus!

Makanan lain yang populer di Banyuwangi adalah nasi tempong. Tempong sebetulnya berarti tempeleng atau tampar. Konon karena penjualnya seolah menamparkan segenggam nasi ke pincuk daun pisang yang dipakai untuk menyajikan makanan. Kecilnya porsi nasi tempong membuatnya sejajar dengan sego kucing di Solo dan Yogya.

Kemungkinan lain penamaan nasi tempong adalah sambalnya yang amat sangat pedas. Banyak yang sampai berlinang air mata saking pedasnya, seperti habis ditempeleng. Nasi tempong adalah konsumsi rakyat yang sangat populer di Banyuwangi. Lauk default untuk sajian ini adalah tempe, tahu, dan ikan asin goreng. Proletar banget lah, pokoknya!

Sore hari, di sebelah Bank BRI di Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi, ada sebuah tenda yang menjual nasi tempong versi menengah. Warung “Bu Sum” yang buka sampai malam ini adalah yang sekarang paling populer di kota di ujung timur Pulau Jawa ini. Sekalipun tenda, tukang becak yang mengantar saya mengatakan: “Wah, itu nasi tempong mahal, lho, Pak. Mbok, ke pasar saja, yang lebih murah.”

Di warung “Bu Sum”, lauknya cukup komplet. Ada cumi yang dimasak dengan tintanya, dengan saus yang hitam pekat. Selebihnya adalah lauk standar seperti ayam goreng, empal, kering tempe, telur dadar, dan lain-lain. Untuk menemani sambal yang pedes, tersedia daun singkong dan genjer kukus. Di situ juga dijual bothok atau pepes sarang tawon yang unik Banyuwangi.

Kalau ingin makan hidangan sari laut (seafood), di Pantai Blimbingsari di selatan Banyuwangi ada tempat makan yang ramai dikunjungi warga. Ombak berdebur di pantai, dan anginnya cukup kencang untuk membuat pengunjung Blimbingsari selalu ingin makan. Perahu-perahu nelayan dan gunung yang ada di sebelah selatan Muncar juga menjadi setting untuk pengalaman makan di Pantai Blimbingsari.

Ikan kakap dan kerapu – bakar atau goreng – sangat murah harganya di sini. Sayangnya, kualitas memasaknya agak di bawah standar. Bumbunya terlalu kenceng, sehingga “menelan” kesegaran ikan laut yang disajikan. Seekor ikan kerapu kecil yang saya pesan, tak sanggup saya habiskan karena bumbunya terlalu asin dan kebanyakan saus tomat.

Saya mencoba menengok penyajian ikan bakar di beberapa warung lainnya yang berjejer di situ. Tapi, tampaknya semua berkualitas sama. “Banjir” saus merah yang membuatnya kehilangan daya tarik.

Sayang sekali! Perlu ada konsultan kuliner untuk Blimbingsari, agaknya!





GANDRUNG – TARI KHAS BANYUWANGI

1 04 2008

Gandrung Banyuwangi berasal dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’ dalam bahasa Jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).
Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

SEJARAH
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

TATA BUSANA
Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.

Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.

Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.

Bagian Bawah
Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.

Lain-lain
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.

MUSIK PENGIRING
Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing.
Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone.

TAHAPAN-TAHAPAN PERTUNJUKAN
Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian:
jejer
maju atau ngibing
seblang subuh

Jejer
Bagian ini merupakan pembuka seluruh pertunjukan gandrung. Pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Maju
Setelah jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Sang gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.
Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repèn (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang subuh
Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian seblang subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya seblang lokento. Suasana mistis terasa pada saat bagian seblang subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, suatu ritual penyembuhan atau penyucian dan masih dilakukan (meski sulit dijumpai) oleh penari-penari wanita usia lanjut. Pada masa sekarang ini, bagian seblang subuh kerap dihilangkan meskipun sebenarnya bagian ini menjadi penutup satu pertunjukan pentas gandrung.

PERKEMBANGAN TERAKHIR
Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran arus globalisasi, yang dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari.





NASI TEMPONG – masakan khas Banyuwangi

1 04 2008

Lagi-lagi ini yang unik. Jenis nasi yang merakyat dikalangan masyarakat Banyuwangi. Saya juga kesempatan cicipi makanan ini di sebuah warung didekat pusat kota Banyuwangi beberapa tahun silam. Sebenarnya hanya nasi biasa yang diambil dengan cara seperti menampar segenggam nasi ke piring (biasanya sih daun pisang atau dialasi daun pisang).

Porsinya pun kecil sampai-sampai disejajarkan dengan sego kucing (nasi kucing) di Solo dan Jogja…sambelnyapun luar biasa pedesnya. Sedang lauknya? standar-standar saja..yang jelas tempe, tahu, atau genjer rebus, ikan asin goreng, ayam, daging, bothok tawon dan kawan-kawannya..

Makanan kayak gini pasti dech bikin pengen nambah, secara porsi kecilnya itu..nah, kata TEMPONG sendiri artinya MENAMPAR dalam dialek setempat. Di berbagai daerahpun ada nasi semacam ini…

a. di Jombang disebut SEGO SADHUKAN
b. di Sidoarjo (terutama Sukodono) disebut SEGO TABOKAN

Hehehehe, namanya lucu-lucu…tapi bukan berarti makannya sambil ditabok/tempong/sadhuk gitu…saking merakyatnya aja, tapi beneran enak juga…

Saya tapi nggak habis pikir, kenapa dalam bahasa Slang kok TEMPONG artinya ‘XXX’?





CHRIS JOHN ANGGAP BANYUWANGI RUMAH KEDUANYA

1 04 2008

Tiga kali Chris John berlatih di Banyuwangi

Tepis Isu Dukun, Kerasan Karena Fasilitas Lengkap
Juara dunia tinju kelas bulu (57,1 kg) versi WBA itu sudah tiga kali berlatih di kota kecil ujung timur Pulau Jawa itu. Mengapa Chris memilih Banyuwangi?

ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi — Sebelumnya, Chris berlatih di kota ini sebelum menghadapi petinju Venezuela Jose Rojas (baca: Hose Rohas) dalam pertarungan part II di Jakarta, 3 Maret 2007 dan petinju Jepang Zaeki Takemoto, di Kota Kobe, 19 Agustus 2007 lalu.

Kini Chris kembali ke Kota Gandrung untuk kali ketiga. Keberadaan petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, ini untuk mempersiapkan diri jelang menghadapi duel wajib (mandatory fight) melawan petinju Panama Roinet Caballero pada 26 Januari 2008 di Jakarta.

Kali ketiga kedatangan Chris John di Banyuwangi ini sempat memunculkan desas-desus tak sedap di telinga. Hampir setiap hari, terdengar nama Chris dibicarakan di warung-warung kopi. Seperti di warung-warung sekitar Taman Blamblangan, Taman Sri Tanjung, maupun depan Stadion Diponegoro. Mereka menduga, ada hal-hal mistis yang dicari Chris John di Bumi Blambangan.

Entah kebetulan atau tidak. Setelah dua kali berturut-turut ’bertapa’ di Kota Gandrung, keberuntungan selalu berada di pihak Chris. Dua kali dia berhasil mempertahankan gelar juaranya. Hal ini menambah santer desas-desus tersebut. Tak ayal, publik awam Banyuwangi benar-benar yakin bawah juara dunia itu memiliki orang pintar alias dukun bin paranormal di kota ini.

Benarkah? Saat ditanya, Chris John langsung tertawa lebar. “Ah…bisa saja. Hawa di Banyuwangi sangat enak dan cocok untuk latihan petinju. Gak ada itu (dukun, Red),” ujarnya.

Saat ditemui koran ini usai berenang di kolam renang Mirah Boxing Camp (MBC) Banyuwangi, dia memilih berlatih di tempat ini karena memiliki fasilitas lengkap. Mulai ring tinju, kolam renang, track sprint, Sehingga dia tidak perlu jauh-jauh untuk melakukan beberapa latihan sekaligus. Tak hanya itu, penginapan, kebutuhan konsumsi, hingga tempat beribadah juga ada.

Selain itu, yang paling menarik bagi Chris John, karena kondisi alam Banyuwangi sangat mendukung. Misalnya di kawasan Gunung Ijen dan Perkebunan Kalibendo. Di tempat itu, dia merasa cocok untuk latihan fisik dengan berlari di tanjakan. “Hawa dan kondisi alam, di sini cocok. Fasilitasnya juga lengkap. Jadi tidak ada istilah dukun,” ujarnya sambil tertawa.

Chris yang kini bernaung di Harry’s Gym, Perth, Australia, kembali mengajak ngobrol seputar persiapannya menghadapi Roinet Caballero. Diakuinya, pertandingan yang akan diselenggarakan di Jakarta itu memang membutuhkan konsentrasi penuh. Maka dari itu, di Banyuwangi kali ini Chris memanfaatkan betul latihannya. Dia optimis bisa menang dalam mandatory fight kali ini. Motivasi Chris semakin bertambah seiring kedatangan dua orang yang paling dicintainya, sang istri Anna Maria Megawati, dan anak semata wayangnya Maria Luna Felisha yang datang langsung dari Semarang. “Kehadiran anak dan istri bisa menambah semangat latihan saya. Saya bersyukur karena mereka juga betah di Banyuwangi,” ujarnya.

Chris dijadwalkan berada di Bumi Blambangan hingga 22 Januari nanti. Setelah itu, petinju yang belum pernah kalah ini bertolak ke Jakarta lewat Bali. Selama dua pekan berada di Banyuwangi Chris benar-benar memanfaatkan latihannya. Sejak kedatangannya Sabtu 5 Januari lalu, jadwal latihan yang harus dilakoninya cukup padat dan berat. Tapi, Chris tampak menikmati. Dia bukan termasuk petinju manja. Tidak seperti lawan-lawannya yang langsung santai usai latihan. Seperti pasca sesi sparring, dia justru masih sibuk menggebuk punching ball, shadow box, spring jump, dan dilanjutkan sit up. “Tinju adalah adalah pekerjaan saya. Jadi, meski latihannya berat, harus tetap dilakoni. Dinikmati saja,” katanya.

Pemilik Sasana MBC Banyuwangi dan Bali Zainal Tayeb mengatakan, pihaknya sangat senang bisa menyediakan fasilitas lengkap untuk petinju kelas dunia seperti Chris John. Chris sudah menganggap MBC Banyuwangi seperti rumah kedua baginya. Dibanding MBC di Bali, fasilitas di MBC Banyuwangi tergolong lengkap. Ring tinju, kolam renang, dan track sprint, penginapan, berada dalam satu komplek. Kalau di Bali, ring, kolam renang, dan penginapan letaknya berjauhan. “Kalau disini, Chris tidak perlu menghabiskan waktu pergi ke tempat satu dan ke tempat lainnya. Semua sudah tersedia disini. Mau latihan model apa semua bisa dilakukan di sini,” tutur Zaenal.

Zainal sebetulnya menggemari dua olahraga. Yakni sepak bola dan tinju. Tetapi dirinya lebih menyukai tinju dibanding sepak bola. Mengapa? Di tinju, kata dia, semangat sportifitas sangat di junjung tinggi. Baik yang kalah maupun yang menang, sama-sama berpelukan usai pertandingan. “Ini tidak saya temui sepak bola. Saat tim kesayangannya kalah, suporternya malah ngamuk,” katanya, sambil menambahkan, tindakan tak sportif itu rata-rata dipicu kepemimpinan wasit yang kurang fair. “Saya mau mengurusi sepak bola asal semua pelaku bisa bertindak sportif,” tambahnya.

Terkait belum adanya promotor untuk pertarungan Chris John v Caballero, pria asal Makassar ini mengaku siap menjadi promotor untuk pertarungan tersebut. “Saya tidak pernah untung ketika menjadi promotor tinju di manapun. Rugi terus. Tetapi saya tetap mencintai tinju. Kali ini saya akan berusaha mencarikan Chris sponsor. Berapapun itu hasilnya. Insya Allah, Chris akan dapat bonus. Tapi (saya) belum tahu berapa nominalnya,” jlentrehnya.

Zaenal angkat topi kepada Chris. Ini karena dalam setiap pertandingan, dia tidak pernah menanyakan dan berorientasi soal bonus. Dia bertarung demi nama baik bangsa Indonesia. “Chris John menang, Indonesia bahagia. Mengapa setiap dari Banyuwangi, Chris selalu menang? Ini karena semua masyarakat Banyuwangi selalu mendukung dan berdoa demi kemenangan Chris,” pungkasnya.

Sumber : Radar Banyuwangi





MENGUAK ISU SANTET BANYUWANGI

1 04 2008

Salah satu kelompok masyarakat adat yang memiliki tradisi unik dan langka di daerah Jawa Timur adalah suku using. Kelompok masyarakat yang terletak di daerah pinggiran Banyuwangi ini memiliki tradisi lisan warisan kerajaan Blambangan, yakni tidak lain adalah memuja mantra. Mantra adalah Do’a Sakral kesukuan yang mengandung Magis dan berkekuatan Ghoib.
Diantara mantra yang sering dipakai adalah Sabuk Mangir dan Jaran Goyang. Kedua mantra ini masing masing memiliki kekuatan magis yang berlainan. Sabuk Mangir merupakan mantra yang pada prakteknya digunakan untuk pengasihan(mendapatkan jodoh) secara halus. Sedangkan Jaran Goyang merupakan mantra yang digunakan untuk pengasihan secara kasar.
Buku Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi berusaha membahas secara komprehensif ihwal praktek santet suku Using Banyuwangi. Buku yang ditulis oleh Heru S. Saputra, Dosen Universitas Jember (UNEJ) ini berangkat dari penelitian lapangannya di tiga tempat desa kultural Using yang berbasis mantra seperti Desa Kemiren dan Olehsari (keduanya di Kecamatan Gajah) serta Mangir (Kecamatan Rojogampi).
Tradisi bermantra sebenarnya sejak lama telah mengakar kuat dalam kehidupan kelompok etnik Using. Pada dasarnya, masyarakat Using memiliki berbagai macam mantra. Namun secara garis besar dapat dipilah menjadi tiga jenis. Pertama, mantra berjenis santet yang berfungsi sebagai pengasihan- kemudian dikenal dengan istilah – magi kuning jika mengandung positif dan magi merah jika mengandung negative. Kedua, mantra berjenis sihir yang bersifat merusak dan berpotensi menghilangkan nyawa- kemudian dikenal dengan istilah – magi hitam. Ketiga, mantra yang bersifat positif, yakni mantra yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit- kemudian dikenal dengan istilah magi putih.
Artikel hanya membahas pada mantra berjenis santet, yakni mantra Sabuk Mangir dan Mantra Jaran Goyang. Alasannya dua mantra inilah yang sering digunakan masyarakat Using. Magi bagi masyarakat Using merupakan sesuatu yang diyakini mampu memberi kekuatan ghaib dan mampu mempengaruhi alam pikiran dan prilaku seseorang. Sedangkan santet merupakan salah satu jenis ngelmu yang dimiliki masyarakat using, yakni ngelmu pengasihan.
Pada umumnya, Mantra Sabuk Mangir digunakan oleh para kawula muda untuk mendapatkan jodoh. Mereka melakukan mantra ini dilandasi dengan ketulusan hati, yakni untuk mendapatkan kebahagiaan secara hakiki. Proses bekerjanya kekuatan magi pada mantra Sabuk Mangir berjalan dengan halus atau pelan – pelan sehingga seseorang yang terkena oleh mantra tersebut tidak akan menyadari bahwa dirinya terkena ngelmu ghaib. Oleh karena itu, pengaruh kekuatan magi terhadap kesadaran seseorang terasa alami.
Mantra yang dapat digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan atau digunakan oleh perempuan untuk memikat laki-laki ini tidak memiliki dampak social yang berarti. Sementara itu, Mantra Jaran Goyang termasuk jenis Mantra santet bermagi merah digunakan untuk pengasihan ( percintaan ) antarinividu dengan diwarnai rasa dendam. Proses bekerjanya kekuatan magi pada mantra Jaran Goyang berjalan lebih kasar atau cepat sehingga seseorang yang terkena mantra akan berprilaku tidakwajar atau tidak alami. Pada umumnya, Mantra Jaran Goyang ini digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan. Namun, mantra Jaran Goyang ini memiliki dampak social yang negative, baik bagi si subjek ( pemantra ) maupun si objek. Selain itu, hasil pemanfaatan mantra Jaran Goyang bersifat fariatif dari tingkatan tergila-gila sampai gila beneran.
Fungsi mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang bagi masyarakat using dapat dipilah menjadi dua fungsi individual dan social. Fungsi individual tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psoikis dan biologis Sementara itu, fungsi sosial mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang dapat bersifat integrative ( menyatu ) dan disintegratif ( memisah). Kedua fungsi ini berlaku ketika mereka tidak mampu memanfaatkan mekanisme budaya lokal. Budaya local yang digunakan untuk mencari jodoh misalnya Gredhoan ( mencari jodoh sesuan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW ), Bathokan ( mencari jodoh dengan memanfaatkan media warung tradisional ) dan Mlayokaken atau Colongan ( mencari jodoh dengan cara melarikan atau mencuri pacar untuk dinikahi ). Selain fungsi utama sebagai pranata social tradisional, fungsi social lain mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang adalah sebagai penekan atau pemaksa berlakunya tata nilai dalam masyarakat, sebagai peningkatan perasaan solidaritas kelompok, dan sebagai penebal kekuatan emosi religiusitas atau kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.
Hal ini merupakan potret khasanah tradisi local masyarakat Using Jawa Timur yang tergolong langka. Selain berusaha membuka tabir teka-teki mantra, juga membahas secara gamblang misteri santet. Sebuah artikel yang berusaha menguak sisi lain kehidupan abad modern melalui kajian antropologis.
Referensi:
Judul Buku : Memuja Mantra; Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi.
Penulis : Heru S. P. Saputra
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2007
Tebal : xxxix + 394 halaman
Peresensi : Ahmad Hasan MS,Pustakawan KUTUB Yogyakarta. Domisili di Jl Parangtritis KM 07 Cabeyan Panggungharjo Bantul





ARI LASSO ITU LAROS

1 04 2008

Selama ini, publik tidak banyak tahu kalau penyanyi ngetop papan atas Ari Lasso itu berasal dari Kota Gandrung Banyuwangi. Saat berkunjung ke Redaksi Radar Banyuwangi, Ari membeberkan asal dan latar belakang orang tuanya. “Saya ini orang Banyuwangi lho. Orang tua saya dulu bertempat tinggal di Jalan Kartini,” ungkap mantan vokalis Dewa 19 saat bertatap muka dengan kru redaksi Radar Banyuwangi kemarin.

Hanya saja, lanjut Ari, kedua orang tuanya sudah lama meninggalkan Banyuwangi. Karenanya, Ari mengaku sudah tidak asing lagi dengan beberapa makanan khas Kota Gandrung seperti rujak soto, nasi tempong dan beberapa kebudayaannya. “Mantan sekda Pak Cuk, itu Pak De saya. Makanya jangan macam-macam dengan saya,” selorohnya.

Saat berkunjung ke kantor Radar Banyuwangi, Ari didampingi pasangan duetnya Bunga Citra Lestari (BCL). BCL juga penasaran dengan makanan khas Banyuwangi Rujak soto, dan nasi tempong. “Wah, kayaknya enak juga tuh,” katanya.

Bunga dan Ari juga menerima kenang-kenangan dari Direktur Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi buku berjudul Doa Sapu Jagad karangan Samsudin Adlawi. Selain itu, mereka juga mendapat bingkisan makanan ringan khas Banyuwangi, bakiak, sale dan lainnya. “Memang wajahnya lumayan mirip,” ujar Ari Lasso mengomentari penampilan Samsudin.

Sementara itu, penampilan mereka dalam konser yang digelar oleh pemkab Banyuwangi dan PT Djarum sangat mengesankan. Ari Lasso membawakan 14 lagu diantaranya, Mengejar Matahari, Hampa, Tulus dan duet bareng BCL berjudul Aku dan Dirimu.

Sedangkan BCL, membawakan enam lagu diantaranya berjudul Sunny, Aku Tak Mau Sendiri, Ingkar dan lainnya.
(Sumber: Radar-Banyuwangi)